Bisnis.com, JAKARTA — Emiten penyedia layanan logistik dan transportasi komoditas, PT Hasnur Internasional Shipping Tbk. (HAIS) menyampaikan hingga kini konflik Iran-AS yang berimbas penutupan Selat Hormuz belum memengaruhi kinerja perseroan.
Namun demikian tantangan yang lebih nyata justru datang dari dinamika sektor batu bara nasional. Salah satunya adalah wacana pemotongan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB perusahaan tambang.
Direktur Keuangan HAIS Rickie mengatakan rencana tersebut berpotensi memengaruhi volume produksi dan pada akhirnya berdampak pada kebutuhan jasa pengangkutan.
"Tantangan yang lebih nyata bagi perseroan saat ini lebih berasal dari dinamika kebijakan pemotongan RKAB sektor tambang," ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Pemerintah saat ini tengah merencanakan pemangkasan produksi batu bara dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 sebesar 40%-70%.
Selain kebijakan itu, perseroan juga menghadapi tekanan dari faktor eksternal lain seperti kondisi cuaca serta melimpahnya jumlah kapal pengangkut batu bara di pasar. Ketersediaan kapal yang tinggi ini memicu persaingan tarif yang semakin ketat.
Sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang memicu kekhawatiran global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz. Jalur strategis ini dikenal sebagai salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, Rickie memastikan bahwa operasional perseroan tidak terdampak langsung oleh dinamika di kawasan tersebut.
Adapun sejauh ini, seluruh armada perseroan beroperasi di perairan domestik Indonesia dengan fokus utama pada pengangkutan batu bara.
Dengan demikian, gangguan atau pembatasan di Selat Hormuz tidak memiliki keterkaitan langsung terhadap jalur pelayaran perseroan.
Meski tidak terdampak secara langsung, manajemen HAIS tetap mencermati perkembangan geopolitik global. Pasalnya, eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi dan perekonomian dunia, yang pada akhirnya bisa berdampak tidak langsung terhadap industri pelayaran dan logistik nasional.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, perseroan menerapkan strategi kehati-hatian dalam pengelolaan biaya, mengoptimalkan utilisasi armada, serta menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
"Dengan pendekatan tersebut, perseroan berupaya mempertahankan ketahanan kinerja di tengah dinamika industri, baik yang bersumber dari faktor domestik maupun global," katanya.
Sepanjang 2025, HAIS mencatat pelemahan kinerja keuangan sepanjang 2025 dengan penurunan pada sisi topline dan bottomline.
Dari sisi pendapatan turun 13,4% menjadi Rp880 miliar dibandingkan dengan pada 2024 yang sebesar Rp1,02 triliun. Sejalan dengan penurunan tersebut, laba bersih perseroan juga turun 28% dari Rp121 miliar menjadi Rp87 miliar pada 2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Source https://www.bisnis.com