Siap-Siap, Gas Baru Pengganti LPG Beredar di RI

Admin Ugems
2 من الدقائق قراءة - Mon Jul 06 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sedang mendorong program penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg. Alasannya, Indonesia memiliki sumber gas untuk CNG yang melimpah.
Bahlil mulanya menggambarkan, bahwa sampai saat ini Indonesia masih mengimpor sebanyak 80% dari total kebutuhan LPG di Indonesia. Hal itu karena, bahan baku jenis gas C3 dan C4 tak begitu tersedia di Indonesia, namun lebih banyak jenis C1 dan C2.
"Makanya kita dorong sekarang CNG. CNG itu gasnya pakai C1 C2 dan itu melimpah di Indonesia. Kita kemarin baru dapat temuan giant di ENI di Kalimantan Timur 5 TCF plus 2 TCF terus kondensat-nya itu kurang lebih sekitar 200.000 barel ekuivalen ya. Itu di 2028-2029 produksinya itu bisa mencapai 3.000 Mmscfd," terang Bahlil dalam Energy Forum CNBC Indonesia, dikutip Senin (6/7/2026).

Ia lantas menjelaskan bahwa pemerintah kini tengah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan CNG dalam tabung 3 kilogram. Sementara, tabung CNG berkapasitas 12 kilogram dan 50 kilogram telah lebih dahulu digunakan di sektor komersial, seperti dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), hotel, restoran.
Karena itu, ia menegaskan penggunaan CNG bukanlah teknologi baru karena sudah lama diterapkan di berbagai sektor. Hanya saja, pemerintah tengah mengembangkan pemanfaatannya untuk kebutuhan rumah tangga.
"Ini bukan barang baru, muncul tiba-tiba dari Fakfak datang, tidak. Ini sudah sudah ada ini. Cuman untuk rakyat kita di bawah yang dikenakan subsidi itu adalah harus pakai tabung yang 3 kilo. Tekanannya itu 200 sampai 250 bar. Nah ini yang kita sekarang lagi uji coba," ujarnya.
CNG Merah Putih
Pemerintah juga telah resmi memperkenalkan proyek pengganti LPG 3 kg menjadi CNG 3 kg. Tabung CNG itu dinamakan "CNG Merah Putih" untuk bisa memanfaatkan sumber dalam negeri dan menekan ketergantungan terhadap LPG yang masih didominasi produk impor.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) kementerian esdm Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah memproses belasan unit prototype tabung CNG untuk memasuki tahap uji coba. Targetnya, CNG tabung 3 kg dapat diimplementasikan dan diedarkan kepada masyarakat luas pada tahun 2026 ini.
"Oh, Pak Menteri kan mengumumkan kemarin tabung Merah Putih. Jadi bulan Juli ini sedang dibuat prototype untuk diuji. Jadi diuji itu. Belasan lah mungkin sekitar 15 (tabung). Satu tahap lagi sudah bisa di-implement, di-edarkan tahun ini," kata Laode saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Senin (6/7/2026).
Berbeda dengan tabung LPG konvensional, CNG Merah Putih menggunakan teknologi tabung Tipe 4 yang berbahan material komposit. Penggunaan teknologi itu dinilai memberikan keunggulan dari sisi beban karena bobotnya yang jauh lebih ringan, sehingga memudahkan penggunaan di tingkat rumah tangga.
"Jadi ini saya ingin jelaskan sekali lagi ya bahwa material tabung ini itu sudah sampai ke tipe 4. Tipe 1 semua logam, tipe 2 sudah mulai ada campuran yang meringankan sampai dengan tipe 3 tapi masih berat (bobotnya). Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti nggak merasa oh ini kok penggantinya berat, enggak," kata Laode.
Tabungnya diimpor dari China
Untuk tahap awal, pemerintah melakukan pengadaan tabung berteknologi tinggi tersebut melalui skema impor dari China. Pihaknya akan melakukan serangkaian pengujian di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), terutama menyangkut faktor keselamatan pada bagian katup (valve) serta ketahanan tabung terhadap tekanan gas.
"Saat ini dari China aja. Kita uji di Lemigas, kan dia kan harus ada uji tekanan, dan seperti itu yang paling penting safety dari valve dan tabungnya seperti apa. Kan di China itu penggabungan antara tabung sama valve-nya," lanjutnya.
Harga jual CNG Merah Putih akan dipatok setara dengan harga LPG bersubsidi saat ini guna menjaga keterjangkauan bagi masyarakat. Melalui simulasi tersebut, penggunaan gas bumi domestik tersebut diyakini mampu memangkas beban subsidi energi secara signifikan.
"Sama dengan harganya sama. Sekarang simulasinya masih disamakan, dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%. Kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini," ungkap Laode.
Implementasi CNG 3 kg nantinya akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan kota-kota besar di Pulau Jawa yang telah memiliki jaringan infrastruktur pipa gas memadai. kementerian esdm telah berkoordinasi dengan SKK Migas untuk menjamin ketersediaan alokasi gas guna mendukung kelancaran program konversi energi tersebut.
"Iya, kita prioritaskan dulu yang dari pipa lah. Makanya uji cobanya kan Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak. Kita sudah bahas sama SKK Migas once itu jalan nanti gasnya bisa tersedia," pungkasnya.


(pgr/pgr)



Source https://www.cnbcindonesia.com

تعليقات الصفحة