BUMA Internasional (DOID) Cetak Pendapatan Rp5,4 Triliun Kuartal I/2026

Admin Ugems
Un minut de lectura - Mon Jun 01 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — PT BUMA Internasional Group Tbk. (DOID) mencetak pendapatan sebesar US$318 juta atau setara Rp5,4 triliun kuartal I/2026 (kurs Jisdor Rp16.999 per dolar AS 31 Maret 2026).
Manajemen BUMA dalam keterangan resminya menjelaskan pendapatan BUMA tercatat sebesar US$318 juta, turun 10% YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil.
Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3% YoY, didukung oleh porsi kontrak rise and fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
Sementara itu, EBITDA meningkat 98% YoY menjadi US$28 juta dari US$14 juta pada kuartal I/2025, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada kuartal I/2025.
Adapun DOID mencatat rugi bersih sebesar US$24 juta atau setara Rp407,97 miliar, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$70 juta pada kuartal I/2025.
Manajemen mengungkapkan perbaikan sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada kuartal I/2025.
Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, mengatakan kuartal I/2026 menunjukkan pemulihan yang dilakukan sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan.
“EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas,” tutur Iwan.
Dia juga menuturkan disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari, memberikan DOID landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini.
“Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering,” ucapnya.
DOID juga mencatatkan belanja modal sebesar US$20 juta, yang dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional.
Sementara itu, arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi US$2 juta, dibandingkan dengan negatif US$19 juta pada kuartal I/2025. Perbaikan ini terutama didorong oleh penerimaan sebesar US$17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, serta didukung oleh pemulihan EBITDA dan belanja modal yang jauh lebih rendah.
Dari sisi operasional, volume overburden removal turun 12% YoY menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20% YoY menjadi 15 juta ton (MT).
Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025.



Source https://www.bisnis.com

Comentaris de la pàgina