Dana Asing Menguap Rp2,15 Triliun dalam Sehari, Khawatir Dampak Situasi Politik

Admin Ugems
2 minuts de lectura - Tue Sep 02 07:00:00 GMT 2025

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi jual investor asing terpantau agresif pada awal pekan ini seiring dengan memanasnya tensi politik di dalam negeri. Aksi demonstrasi menjadi kekhawatiran bakal ada ketidakstabilan di Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), tercatat nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp2,15 triliun pada perdagangan Senin (1/9/2025). Dengan begitu, net sell asing mencapai Rp53,1 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Sejumlah saham mencatatkan net sell asing tinggi, seperti aham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp1,6 triliun, PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) sebesar Rp734,15 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) sebesar Rp110,22 miliar.
Seiring dengan keluarnya dana asing, indeks harga saham gabungan (IHSG) pun melemah 1,21% ke level 7.736,06 kemarin. Meskipun, IHSG masih di zona hijau, menguat 9,27% ytd.


Keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia terjadi seiring dengan gejolak politik dalam negeri. Terjadi peningkatan eskalasi demonstrasi sejak aksi demonstrasi buruh dan masyarakat luas di Jakarta pada pekan lalu (28/8/2025).
Aksi kemudian menimbulkan korban jiwa seorang pengemudi ojek online (ojol) karena dilindas oleh polisi dengan mobil rantis. Kejadian itu pun memicu amarah publik dan kalangan sesama pengemudi ojol. Hingga akhir pekan lalu, Jumat (29/8/2025) dini hari ratusan massa mendatangi markas Mako Brimob (Brigade Mobil) di Kwitang, Jakarta.
Amarah publik pun meluas hingga menimbulkan terjadinya penjarahan rumah sejumlah anggota DPR RI hingga rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Penggiat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan aliran dana asing diproyeksikan akan berlanjut keluar dari pasar saham Indonesia apabila situasi politik tidak berhasil diredam dalam kurun waktu yang dekat.
“Panic selling bisa meluas ke berbagai sektor,” kata Reydi kepada Bisnis pada Senin (1/9/2025).
Dalam sepekan ke depan, menurutnya investor asing akan cenderung wait and see apalagi dalam pekan ini perdagangan di Bursa hanya berjalan empat hari efektif.
“Investor pasti menunggu kepastian dari arah kebijakan pemerintah dalam menyikapi kisruh politik ini,” ujar Reydi.
Faktor lain yang diproyeksikan memengaruhi aliran dana asing saat ini adalah kebijakan The Fed yang belakangan dinilai akan menahan suku bunganya per September, apabila hasil rilis inflasi di AS masih lebih tinggi dari ekspektasi.
Nilai tukar rupiah yang terus melemah juga membuat capital outflow semakin deras. Harga komoditas yang turun juga akan memicu aksi jual dari sektor terkait.
Menurutnya, saham dan sektor yang berpotensi dilepas asing adalah saham berkapitalisasi besar serta likuid, seperti saham bank jumbo BBCA, BMRI, dan BBRI.

Kemudian, dari sektor energi dan komoditas saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (adro), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) rawan dilepas apabila harga batu bara terkoreksi.
Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan dalam sepekan ke depan diperkirakan masih akan ada tekanan net sell asing di pasar saham Indonesia, terutama apabila isu politik di dalam negeri belum mereda.
“Investor asing biasanya cepat melakukan reposisi portofolio ketika melihat ada potensi ketidakpastian, apalagi ditambah faktor global seperti arah kebijakan The Fed yang masih jadi perhatian. Jadi volatilitas masih tinggi,” ujarnya kepada Bisnis pada Senin (1/9/2025).
Adapun, menurutnya saham-saham bank jumbo seperti BBCA dan BMRI akan menjadi target utama net sell asing karena bobotnya besar di IHSG, sehingga cukup wajar kalau tekanan terlihat paling signifikan di sektor perbankan.
Selain itu, sektor komoditas energi seperti adro atau ITMG juga berpotensi lanjut dijual asing karena harga batu bara global sedang fluktuatif.
“Namun, biasanya pola net sell asing tidak bertahan lama kalau fundamental makro Indonesia tetap solid. Jadi, ada kemungkinan setelah gelombang pelepasan, investor asing kembali masuk selektif, terutama ke saham bank besar dan emiten berbasis consumer,” kata Felix.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Comentaris de la pàgina