Bisnis.com, JAKARTA — PT Singaraja Putra Tbk. (SINI), yang terafiliasi konglomerat Happy Hapsoro, optimistis akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), entitas anak PT Petrosea Tbk. (PTRO), senilai Rp1,73 triliun akan menjadi motor pertumbuhan bisnis batu bara perseroan.
Setelah transaksi tersebut, SINI membidik peningkatan kapasitas produksi hingga 5 juta ton per tahun dan tambahan kontribusi pendapatan pada 2027.
Direktur Utama SINI Amir Antolis mengatakan pengambilalihan KMS merupakan bagian dari strategi pengembangan usaha dan peningkatan investasi perseroan di sektor pertambangan batu bara yang masih memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah.
"Permintaan batu bara global diperkirakan masih terjaga, terutama dari negara-negara Asia seperti China dan India. Selain itu, berdasarkan RUPTL 2025–2034, kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar 5,3% per tahun, sehingga batu bara diperkirakan masih akan berperan penting dalam mendukung pasokan energi nasional dalam jangka menengah," ujar Amir dalam jawaban atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia, Selasa (21/7/2026).
Dia menjelaskan akuisisi KMS diharapkan memperluas cakupan usaha perseroan, memperkuat portofolio investasi sektor pertambangan batu bara, sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan dan laba.
Nilai transaksi pengambilalihan saham KMS mencapai Rp1,73 triliun atau setara 110,26% dari total aset perseroan sehingga dikategorikan sebagai transaksi material.
Manajemen SINI memperkirakan dampak jangka pendek dari transaksi tersebut adalah meningkatnya nilai aset serta kepercayaan investor terhadap prospek perseroan.
Dalam jangka panjang, akuisisi diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi dan volume penjualan batu bara, mendorong pertumbuhan laba, menciptakan sinergi operasional, hingga mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah operasi.
SINI juga menyiapkan integrasi operasional antara KMS dan entitas tambang yang telah dimiliki, yakni PT Pasir Bara Prima (PBP) dan PT PKP. Integrasi akan dilakukan melalui sinergi pada aspek penjualan, produksi, logistik, dan operasional lainnya untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat posisi tawar perseroan.
Selain itu, perseroan menilai akuisisi tersebut akan membuka peluang peningkatan standar pembangunan infrastruktur pertambangan yang pada akhirnya dapat menekan biaya operasional.
Terkait hubungan dengan Petrosea, Amir menjelaskan terdapat kontrak jasa pertambangan jangka panjang antara PTRO dan PBP yang berlaku hingga 2032. Namun, kontrak tersebut berdiri sendiri dan tidak menjadi bagian maupun syarat dalam transaksi akuisisi KMS.
Target Produksi batu bara Singaraja Putra
Manajemen menargetkan produksi dari konsesi KMS meningkat secara bertahap menjadi sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal, kemudian naik menjadi 3,6 juta ton per tahun, hingga mencapai kapasitas optimal sekitar 5 juta ton per tahun.
Berdasarkan estimasi cadangan saat ini, umur tambang (life of mine) KMS diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2038, meski masih dapat berubah mengikuti rencana penambangan dan kondisi operasional.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, sambung Amir Antolis, KMS diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi utama perseroan. Volume penjualan batu bara konsolidasi juga diproyeksikan meningkat secara bertahap dibandingkan realisasi 2025 sebesar 203.057 metrik ton.
Di sisi keuangan, SINI menargetkan pendapatan KMS mencapai US$52 juta pada 2026 dan meningkat menjadi US$158,97 juta pada 2027. Kontribusi terhadap pendapatan konsolidasi perseroan diperkirakan mencapai 21,40% pada 2026 dan meningkat menjadi 27,06% pada 2027.
Amir menambahkan sinergi operasional pasca-akuisisi juga diharapkan membuat kontrak jasa pertambangan menjadi lebih kompetitif melalui peningkatan efisiensi biaya, optimalisasi penggunaan alat dan sumber daya, serta penguatan koordinasi pelaksanaan operasi.
Akuisisi tersebut juga mempertemukan dua konglomerasi di pasar modal. PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, sedangkan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) merupakan entitas anak PT Petrosea Tbk. (PTRO) yang berada di bawah kendali kelompok usaha Prajogo Pangestu melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Source https://www.bisnis.com