Emiten Komoditas Gencar Diversifikasi, Cek Prospeknya

Admin Ugems
Lesen in einer Minute - Mon Sep 14 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah emiten komoditas, mulai dari batu bara hingga minyak dan gas (migas), mulai melakukan diversifikasi bisnis di tengah pergerakan harga komoditas yang volatil.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan karakteristik masing-masing komoditas membuat diversifikasi menjadi penting bagi emiten untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah perubahan siklus harga.
“Strategi diversifikasi menjadi makin penting bagi emiten komoditas untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ketika siklus harga komoditas bergerak volatil,” ujar Nafan dihubungi pekan ini.
Untuk prospek beberapa tahun ke depan, Nafan menilai emiten minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) relatif lebih prospektif dibandingkan emiten batu bara dan migas. Namun, kinerja sektor sawit tetap bergantung pada dinamika pasokan dan permintaan global.

Dia mencatat harga referensi CPO Indonesia pada September 2026 mencapai US$1.007,51 per ton, naik 1,1% dari Agustus 2026. Menurutnya, level tersebut masih cukup suportif bagi produsen sawit.
Di sisi lain, emiten batu bara masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari normalisasi harga, perlambatan permintaan energi global, hingga percepatan transisi menuju energi rendah karbon.
“Emiten batu bara masih berpeluang memberikan return menarik ketika harga menguat, tetapi investor perlu lebih selektif karena prospek jangka panjang komoditas tersebut menghadapi tekanan transisi energi,” ucap Nafan.
Sementara itu, prospek emiten migas dinilai lebih kompleks. Menurut Nafan, faktor geopolitik dapat menjadi katalis bagi harga dalam jangka pendek. Namun, pertumbuhan produksi negara non-OPEC dan perubahan pola permintaan global dapat membatasi prospek sektor tersebut.
Untuk sektor CPO, investor juga perlu mencermati sejumlah faktor, termasuk kebijakan ekspor, pungutan, kondisi cuaca, serta perkembangan permintaan dari India dan Cina.
"Emiten yang paling menarik ke depan bukan semata-mata yang memiliki eksposur terbesar terhadap satu komoditas, tetapi yang mampu mengelola siklus komoditas melalui diversifikasi, efisiensi biaya, hilirisasi, dan disiplin neraca," katanya.
Adapun untuk pilihan saham, Nafan memberikan rekomendasi add untuk PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) dengan target harga Rp1.795 per saham. Sementara itu, dia memberikan rekomendasi hold atau maintain untuk PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dengan target harga Rp1.875 per saham.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Seitenkommentare