3 Tahun Sumbang Devisa Kini 3 Komoditas Andalan RI Les

Admin Ugems
Lectura de un minuto - Tue Aug 15 06:30:00 GMT 2023

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga komoditas unggulan ekspor Indonesia, yakni besi dan baja, minyak kelapa sawit, serta batu bara terus mengalami kemerosotan harga beberapa bulan terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, untuk nilai ekspor besi dan baja terus mengalami penurunan. Pada Mei 2023 nilainya sudah sebesar US$ 2,02 miliar, lebih rendah dari April 2023 US$ 2,16 miliar.
"Tiga tahun terakhir besi dan baja cukup signifikan beri devisa ke negara kita, nilai nya itu bervariasi tapi untuk khusus Mei itu ada kecenderungan menurun," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud saat konferensi pers secara daring, Kamis (15/6/2023).


ADVERTISEMENT
















SCROLL TO RESUME CONTENT



Terus merosotnya nilai ekspor besi dan baja itu dipengaruhi oleh harganya uang juga terus merosot. Per Mei 2023 sudah ke level US$ 105,2 per metrik ton, turun sekitar 10,43% mtm dan 19,86% yoy. Padah dari sisi volume ekspornya naik menjadi 1,5 juta ton.






Baca:
Era Higher for Longer yang Ditakuti Sri Mulyani di Depan Mata





"Jadi besi dan baja meski secara nilai dibanding bulan sebelumnya April ada penurunan tapi secara volume ada tren kenaikan bahkan kalau kita lihat dari Januari sampai Mei," ucapnya.
Komoditas andalan ekspor yang mengalami kemerosotan secara nilai adalah batubara yang kini sudah hanya sebesar US$ 3 miliar dari sebelumnya mampu di level kisaran atas US$ dolar tahun lalu. Dari sisi volume pun sudah merosot ke level 31,6 juta ton dan harganya menjadi US$ 160,5 per metrik ton.
"Kalau kita lihat secara price batu bara di pasar global kami catat Mei sebesar US$ 160 per metrik ton, secara volume trennya Mei ada sedikit penurunan dibanding bulan sebelumnya," tutur Edy.






Baca:
Pantes! Jalanan Makin Macet, Impor Kendaraan Melesat Nih





Terakhir adalah komoditas minyak kelapa sawit, yang hingga Mei 2023 nilai ekspornya sudah ke level US$ 1,5 miliar. Padahal pada pertengahan 2022 atau sektiar bulan Agustus nilai ekspornya hampir menyentuhlevel US$ 4 miliar.
Turunnya nilai ekspor minyak kelapa sawit ini menurut Edy tidak terlepas dari penurunan harganya yang kini telah berada di level US$ 934,1 per metrik ton meskipun dari sisi volume mulai ada kenaikan ke level 1,6 juta ton pada Mei 2023.
"CPO sebetulnya price-nya cenderung datar mulai di pertengahan tahun lalu sampai tahun ini, sehingga volumenya dari Januari sampai Mei ada penurunan tapi khusus Mei ada kenaikan dibanding April," ucapnya.



[Gambas:Video CNBC]






Artikel Selanjutnya


Bukan Nikel, Eks Petinggi WTO Ungkap 2 Isu Kontroversial RI





(haa/haa)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Comentarios de la página