Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, ADRO, BBNI hingga BBCA Pimpin Kenaikan

Admin Ugems
Lectura de un minuto - Fri Jun 19 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Bisnis-27 dibuka menguat dalam perdagangan Jumat (19/6/2026). Saham konstituen seperti adro, BBCA hingga BBNI menjadi penopang utama penguatan indeks.
Melansir IDX Mobile pukul 09.01 WIB, indeks hasil kerja sama harian Bisnis Indonesia ini dibuka menguat 0,25% ke 430,35. Indeks mengawali perdagangan dengan volume transaksi 613 juta saham senilai Rp468,3 miliar.
Sebanyak 16 saham konstituen dibuka di zona hijau. Mereka antara lain adalah adro yang dibuka naik 1,77% ke Rp2.300, AKRA menguat 0,41% ke Rp1.210, ASII naik 1,05% ke Rp4.820, BBCA dibuka naik 2,06% ke Rp6.200, BBNI naik 0,27% ke Rp3.740, hingga saham UNTR yang dibuka menguat 0,33% ke Rp22.875.
Di sisi lain, 10 saham konstituen dibuka melemah. Mereka antara lain adalah saham ANTM yang turun 2,21% ke Rp3.100, BMRI melemah 0,67% ke Rp4.440, saham DEWA melemah 0,52% ke Rp380, saham INCO turun 0,49% ke Rp5.100, hingga saham MIKA yang dibuka turun 1,59% ke Rp1.550.

Sisanya, ada 1 saham konstituen yang belum berubah, yaitu MAPI yang tertahan di level Rp1.510.
Adapun, penguatan indeks Bisnis-27 pagi ini sejalan dengan laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang juga dibuka menguat 0,26% atau 16,32 poin ke posisi 6.188,66. Indeks komposit menguat pasca pengumuman MSCI yang mengumumkan posisi Indonesia tetap berada di kelas emerging market.
Walau demikian, MSCI Inc., dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review menyoroti masalah transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi (coordinating trading) di pasar modal Indonesia yang dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
Penyedia indeks global tersebut menurunkan nilai kriteria information flow Indonesia dari "+" menjadi "-".
"Di Indonesia, kekhawatiran aksesibilitas muncul akibat berlanjutnya ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehingga mengganggu pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI dalam laporannya.
Menurut MSCI, kondisi tersebut secara material membatasi kemampuan investor institusi global dalam menilai tingkat free float yang sebenarnya serta mengandalkan harga pasar yang terbentuk untuk kebutuhan penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.
Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa dalam MSCI Market Accessibility Review tersebut MSCI memberikan penilaian terperinci tentang aksesibilitas pasar untuk setiap pasar ekuitas yang termasuk dalam Indeks MSCI, serta mengevaluasi lima kriteria aksesibilitas pasar.
Lima kriteria tersebut yaitu keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus masuk dan keluar modal, efisiensi kerangka kerja operasional, ketersediaan instrumen investasi, dan stabilitas kerangka kerja kelembagaan.
"MSCI menggunakan 18 pendekatan berbeda untuk menilai lima kriteria tersebut. Dari 18 pendekatan tersebut, Indonesia yang masih memerlukan perbaikan adalah foreign exchange market liberalization level dan information flow," tulis analis.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Comentarios de la página