Grup ABMM di Sektor Logistik Sebut Jurus Hadapi Gejolak Geopolitik

Admin Ugems
2 Minuutin Luku - Sun Jun 28 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT abm investama Tbk. (ABMM), PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), menyiapkan strategi kolaborasi lintas pelaku industri dan digitalisasi rantai pasok untuk menghadapi meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional.
Direktur CKB Logistics Iman Sjafei mengatakan dinamika geopolitik global telah meningkatkan volatilitas jalur perdagangan internasional yang berdampak langsung terhadap kelancaran rantai pasok.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat diatasi oleh satu perusahaan saja, melainkan membutuhkan sinergi antarpelaku industri, regulator, hingga kalangan akademisi.
"Ketegangan geopolitik dunia telah menciptakan hambatan nyata. Kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi. Sinergi ini mutlak diperlukan agar kita dapat memitigasi risiko, menghadapi berbagai skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi tetap berputar lancar," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (28/6/2026).

PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics), anak usaha PT abm investama Tbk. (ABMM), pun membuat agenda CKB Supply Chain Forum 2026. Forum tersebut mempertemukan pelaku industri, pelanggan, akademisi, serta regulator, termasuk Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Iman mengatakan CSCF 2026 diharapkan berkembang menjadi ekosistem kolaboratif yang mampu menyelaraskan strategi bisnis dengan perkembangan regulasi kepabeanan sekaligus mendorong inovasi rantai pasok yang lebih adaptif.
"Perpaduan keahlian akademis SCI, kebijakan otoritas Bea Cukai, serta kapabilitas operasional andal dari CKB Logistics menjadikan ajang ini lebih dari sekadar tempat berdiskusi. Forum ini mampu menjadi katalisator utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berubah," katanya.
Sementara itu, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics Ety Puspitasari mengatakan strategi pengelolaan rantai pasok kini tidak lagi cukup berorientasi pada efisiensi biaya (efficiency-driven), tetapi harus bertransformasi menjadi berbasis ketangguhan (resilience-driven).
Menurutnya, ketahanan rantai pasok tidak berarti menghilangkan seluruh potensi gangguan, melainkan membangun jaringan operasional yang fleksibel sehingga proses pemulihan bisnis dapat berlangsung lebih cepat ketika krisis terjadi.
"Resilience-driven tidak dicapai dengan hanya menghindari gangguan secara mutlak saja, melainkan melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik. Tujuannya agar pemulihan bisnis dapat berjalan jauh lebih cepat atau recover faster saat krisis terjadi," ujar Ety.
Dia menambahkan, perusahaan perlu menerapkan manajemen risiko rantai pasok secara menyeluruh melalui lima pilar utama, yakni tata kelola risiko (risk governance), visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Implementasi strategi tersebut antara lain dilakukan melalui pemetaan risiko dari hulu hingga hilir (end-to-end), penyusunan SOP kontingensi yang adaptif, penyediaan jalur distribusi alternatif, hingga pemanfaatan teknologi Digital Control Tower untuk meningkatkan visibilitas operasional secara real time.


Pandangan serupa disampaikan Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi. Menurutnya, rantai pasok yang tangguh bukan berarti bebas dari gangguan, melainkan mampu mendeteksi risiko lebih dini, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak seminimal mungkin.
"Supply chain yang tangguh bukan supply chain yang tidak pernah mengalami gangguan, tetapi yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin," ujarnya.
Setijadi mengatakan penerapan digital control tower tidak cukup hanya berupa dashboard pemantauan, melainkan harus menjadi operating model yang mengintegrasikan data, proses bisnis, sumber daya manusia, tata kelola, hingga pengambilan keputusan secara cepat.
Di tengah tantangan tersebut, prospek industri logistik nasional masih dinilai positif. Berdasarkan proyeksi Supply Chain Indonesia, kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan mencapai Rp1.500 triliun pada akhir 2025 dan meningkat menjadi sekitar Rp1.700 triliun pada 2026.
"Supply chain yang tangguh bukan supply chain yang tidak pernah mengalami gangguan, tetapi yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin," ujarnya.



Source https://www.bisnis.com

Sivun kommentit