Harga Batu Bara Memanas Lagi Diprediksi Bertahan di Level Tinggi

Admin Ugems
Minuuttiluku - Wed Apr 08 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan harga batu bara global saat ini menunjukkan tren stabil dengan kecenderungan menguat terbatas, seiring meningkatnya pengaruh harga komoditas energi lain, khususnya liquefied natural gas (LNG), di tengah ketidakpastian geopolitik.
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa mengungkapkan bahwa kenaikan harga batu bara pada awal April mencerminkan adanya peralihan sementara dari gas ke batu bara. Hal ini dipicu lonjakan harga LNG akibat gangguan geopolitik di sejumlah wilayah strategis.
Dia menyebut harga acuan batu bara Newcastle saat ini berada di kisaran US$136 hingga US$140 per ton. Ini menunjukkan adanya switching sementara dari gas ke batu bara.
Selain itu, tambahan permintaan global yang diperkirakan mencapai 40–60 juta ton turut menjadi faktor penopang harga, khususnya untuk batu bara berkalori tinggi yang pasokannya relatif terbatas.
Meski demikian, Amru menilai proses transisi energi dari batu bara ke sumber energi yang lebih bersih masih berlangsung secara bertahap. Hal ini disebabkan oleh berbagai keterbatasan struktural, baik di kawasan Eropa maupun Asia.
“Ke depan, harga batu bara diperkirakan tetap bergerak dalam kisaran US$110–US$140 per ton, dengan kemungkinan penyesuaian jika terjadi perubahan pada pasokan global atau permintaan energi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Selain itu, kebijakan emisi karbon di negara konsumen juga akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah permintaan dalam jangka menengah.
Lebih lanjut, Amru menekankan bahwa saat ini batu bara berperan sebagai energi penyeimbang, sehingga permintaannya tidak hanya ditentukan oleh faktor internal industri, tetapi juga oleh dinamika pasar energi global secara keseluruhan.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak dunia juga masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi utama energi global seperti Selat Hormuz.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kebijakan produksi dari kelompok negara pengekspor minyak (OPEC+), serta kondisi ekonomi global. Perlambatan ekonomi dapat menekan permintaan energi, sementara perbaikan pasokan berpotensi menahan kenaikan harga.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak menghadirkan dampak yang beragam. Di satu sisi, terdapat peluang peningkatan penerimaan negara dari sektor energi. Namun di sisi lain, sebagai negara yang masih mengimpor minyak, kenaikan harga dapat membebani neraca perdagangan dan meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi.
Tak hanya itu, pergerakan harga energi juga berpotensi mendorong inflasi, terutama pada sektor transportasi dan energi. Oleh karena itu, respons kebijakan pemerintah akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah dinamika pasar energi global.



Source https://www.bisnis.com

Sivun kommentit