Moodys Pangkas Outlook Bayan Resources (BYAN) Jadi Negatif, Ini Biang Keroknya

Admin Ugems
3 Minuutin Luku - Fri Sep 18 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Moody's Ratings (Moody's) menegaskan peringkat korporasi atau corporate family rating (CFR) PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) di level Ba1. Namun, Moody's mengubah prospek (outlook) peringkat BYAN menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Assistant Vice President Moody's Ratings Anthony Prayugo mengatakan perubahan outlook tersebut mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi batu bara Bayan yang telah menyebabkan perseroan menyatakan force majeure.
"Prospek negatif tersebut mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi, yang telah menyebabkan Bayan menyatakan force majeure. Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat membatasi produksi dan menekan laba," kata Anthony Prayugo dalam keterangan Moody's, Jumat (18/9/2026).
Prayugo menambahkan metrik kredit Bayan tetap kuat karena didukung neraca tanpa utang. Namun, ketidakpastian terkait persetujuan kuota produksi menimbulkan risiko terhadap kemampuan perusahaan mencapai pertumbuhan produksi.

"Metrik kredit Bayan tetap kuat, didukung oleh neraca tanpa utang, tetapi ketidakpastian yang berlanjut terkait persetujuan kuota menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuan perusahaan mencapai pertumbuhan produksi," tambah Prayugo.
Moody's mencatat Bayan pada 14 September 2026 menyatakan force majeure atas kewajiban pasokan batu bara setelah terjadi keterlambatan dalam memperoleh persetujuan pemerintah Indonesia untuk menaikkan kuota produksi pertambangan tahunan.
Tanpa revisi kuota tersebut, produksi Bayan diperkirakan turun menjadi sekitar 39 juta metrik ton (MT) pada 2026, dari sekitar 68 juta MT pada 2025.
Menurut Moody's, meskipun kuota produksi pada akhirnya dinaikkan, ketidakpastian dalam proses persetujuan tahunan mengurangi visibilitas terhadap kemampuan Bayan memperoleh alokasi produksi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun mendatang.
Ketidakpastian tersebut juga membatasi kemampuan perusahaan untuk merencanakan produksi, memenuhi komitmen pengiriman berdasarkan kontrak secara andal, serta mencapai pertumbuhan laba dan arus kas yang sebelumnya diperkirakan Moody's.
Jika permintaan Bayan untuk revisi kuota tidak disetujui, Moody's memperkirakan EBITDA perusahaan turun menjadi sekitar US$700 juta pada 2026, dari sekitar US$1,1 miliar pada 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya volume penjualan secara material.
Sementara itu, apabila produksi tetap berada di sekitar 39 juta MT pada 2027, Moody's memperkirakan EBITDA Bayan kembali turun menjadi sekitar US$400 juta–US$500 juta.
Perkiraan tersebut menggunakan asumsi harga jual rata-rata sebesar US$48 per MT, yang berada di bawah perkiraan harga realisasi pada 2026.
Dalam skenario tersebut, laba Bayan akan tetap berada jauh di bawah ekspektasi Moody's sebelumnya, yakni sekitar US$1 miliar per tahun. Proyeksi sebelumnya mengasumsikan pertumbuhan produksi berlanjut menuju kapasitas produksi perusahaan sebesar 80 juta MT.
Metrik Kredit dan Likuiditas BYAN
Terlepas dari tekanan terhadap produksi dan laba, Moody's memperkirakan metrik kredit Bayan tetap sangat kuat.
Bayan diperkirakan membiayai belanja modal untuk peningkatan kapasitas produksi dan ekspansi infrastruktur terutama melalui arus kas internal sehingga membatasi kebutuhan tambahan utang.
Dengan kondisi tersebut, Moody's memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA yang disesuaikan Moody's tetap di bawah 0,5 kali selama dua tahun ke depan.
CFR Bayan di level Ba1 mencerminkan posisi perusahaan sebagai salah satu produsen batu bara termal terbesar di Indonesia, umur cadangan tambang yang panjang, profitabilitas yang kuat berkat struktur biaya yang rendah, likuiditas yang sangat baik, serta kebijakan keuangan yang hati-hati.
Moody's juga memperkirakan Bayan mempertahankan likuiditas yang sangat baik selama 18 bulan ke depan dengan kas internal dan proyeksi arus kas operasi yang cukup untuk membiayai belanja modal serta pembayaran dividen.
Per akhir Juni 2026, Bayan juga memiliki sekitar US$650 juta fasilitas modal kerja berkomitmen yang belum ditarik dari perbankan.
Dengan outlook negatif, Moody's menyatakan kenaikan peringkat tidak mungkin terjadi dalam 12–18 bulan ke depan.
Outlook dapat kembali menjadi stabil jika Bayan menunjukkan kemampuan untuk secara konsisten memperoleh alokasi kuota produksi yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi, laba, dan arus kas, sekaligus mempertahankan likuiditas yang sangat baik dan kebijakan keuangan yang konservatif.
Sebaliknya, Moody's dapat menurunkan peringkat jika gangguan operasional, termasuk keterlambatan berkepanjangan dalam persetujuan kuota produksi atau periode force majeure yang berlangsung lama, secara material melemahkan produksi, laba, arus kas, atau likuiditas Bayan.
Moody's juga dapat menurunkan peringkat apabila perubahan kepemilikan atau pengendalian menyebabkan kebijakan keuangan yang lebih agresif, leverage yang lebih tinggi, peningkatan pembagian kepada pemegang saham, atau eksposur yang lebih besar terhadap pihak berelasi.
Indikator spesifik yang dapat memicu penurunan peringkat antara lain rasio utang/EBITDA yang disesuaikan Moody's di atas 2,5 kali atau rasio (EBITDA - capex)/beban bunga yang disesuaikan di bawah 4,5 kali.
BYAN Sebelumnya Umumkan Force Majeure
Sebelumnya, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) mengumumkan keadaan kahar (force majeure) sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang telah terkontrak. Kondisi tersebut berkaitan dengan perizinan produksi batu bara yang belum diberikan pemerintah.
Melansir keterbukaan informasi Senin (14/9/2026), manajemen BYAN menjelaskan bahwa anak usaha perseroan, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, menyampaikan pemberitahuan keadaan kahar terhadap kewajiban pemenuhan penyediaan batu bara berdasarkan Perjanjian Penyediaan batu bara (Coal Supply Agreement) kepada para pelanggan.
Keadaan tersebut terjadi karena persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 belum diterbitkan kepada ketiga anak usaha BYAN tersebut. Manajemen menyebut permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
RKAB diperlukan agar anak perusahaan BYAN dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah. Belum adanya RKAB tersebut memengaruhi kemampuan BYAN dan anak usahanya untuk memenuhi kewajiban kepada pelanggan.
"Sehubungan dengan hal tersebut, perseroan dan anak-anak perusahaannya memberitahukan keadaan tersebut di atas sebagai suatu peristiwa Keadaan Kahar/Force Majeure kepada para pelanggannya," tulis manajemen, Senin (14/9/2026).
Manajemen menambahkan, belum diterbitkannya persetujuan perubahan RKAB menimbulkan dampak yang cukup material terhadap kelangsungan usaha BYAN.
"Namun dengan dilakukannya pemberitahuan keadaan/kejadian yang bersifat memaksa (Keadaan Kahar/Force Majeure) ini, diharapkan dapat meminimalisir risiko dan/atau konsekuensi bagi perseroan dan anak-anak perusahannya," tandas manajemen.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan batu bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan batas waktu pengajuan revisi RKAB telah ditetapkan dan berakhir pada 31 Juli 2026. Namun, proses evaluasi terhadap dokumen yang telah masuk masih berlangsung.
Tri menuturkan sejumlah perusahaan masih harus memenuhi atau memperbaiki persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah sebelum revisi RKAB dapat diproses lebih lanjut.
"Kalau yang jelas kan sudah mengajukan 31 Juli. Nah, ini evaluasi ada beberapa yang masih belum sesuai," ujar Tri dalam acara diskusi yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia, Kamis (10/9/2026).
Adapun, Kementerian ESDM tahun ini memperketat syarat pengajuan RKAB mineral dan batu bara. Tri menjelaskan pengetatan tersebut dilakukan guna meningkatkan kedisiplinan pelaku usaha.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Sivun kommentit