United Tractors (UNTR) Diproyeksi Raup Laba Rp3,2 Triliun pada Kuartal I/2026

Admin Ugems
Minuuttiluku - Wed Apr 08 01:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja operasional PT United Tractors Tbk. (UNTR) hingga Februari 2026 dinilai masih terjaga kendati menunjukkan perlambatan yang dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari kendala perizinan RKAB hingga faktor musiman Ramadan.
Berdasarkan data publikasi UNTR per Februari 2026 Penjualan alat berat Komatsu tercatat melemah menjadi 259 unit pada Februari 2026, atau turun 40% secara tahunan yang sebesar 435 unit, dan 58% dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, secara kumulatif dua bulan pertama 2026, penjualan mencapai 869 unit atau turun 11% yoy. Angka ini masih sejalan dengan target tahunan UNTR sebesar 4.500 unit, setara 19% dari target jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun sebesar 17%.
Penurunan terjadi di hampir semua sektor, terutama pertambangan -51% secara bulanan dan kehutanan -89%. Secara year to date pangsa pasar Komatsu adalah sebesar 21%.
Analis PT Indopremier Sekuritas Reggie Parengkuan mengatakan penurunan kinerja ini dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari kendala perizinan Rencana Kerja Anggaran Biaya atau RKAB hingga faktor musiman Ramadan.
Selain dari alat berat, volume produksi batu bara oleh entitas PT Pamapersada Nusantara juga mengalami penurunan. Pada Februari 2026, produksi tercatat 9,6 juta ton dengan overburden atau OB sebesar 74,3 juta bcm, masing-masing turun 10% dan 12% secara bulanan.
“Penurunan ini dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi serta upaya efisiensi biaya dari para penambang,” ujarnya dalam riset tertulis dikutip, Selasa (7/4/2026).
Namun demikian secara kumulatif sepanjang 2 bulan pertama 2026 produksi batu bara mencapai 20 juta ton dan OB sebesar 159 juta bcm, turun 7% secara tahunan. Capaian ini masih sesuai dengan panduan tahunan perusahaan.
Kinerja anak usaha di sektor batu bara termal dan metalurgi, Tuah Tarangga Agung, juga tercatat melemah. Penjualan batu bara pada Februari 2026 tercatat 1,3 juta ton, turun 15% secara bulanan. Penurunan terjadi baik pada batu bara termal maupun metalurgi.
Sepanjang dua bulan pertama 2026, penjualan batu bara termal mencapai 2,3 juta ton atau naik 10% secara tahunan, sementara coking coal hanya 0,5 juta ton turun 36% secara tahunan. Angka ini masih di bawah target tahunan.
“Perlu dicatat, RKAB TTA untuk 2026 disetujui sebesar 7,5 juta ton, atau hanya separuh dari target awal 15 juta ton. Meski demikian, revisi masih berpotensi terjadi pada semester II,” lanjutnya.
Dari sektor mineral, penjualan emas relatif stagnan di level 1.000 ons pada Februari 2026. Secara kumulatif, penjualan hanya mencapai 2.000 ons atau anjlok 95% yoy, jauh dari target tahunan.
Kondisi ini disebabkan oleh tambang emas Martabe yang masih menunggu proses audit lingkungan. Operasi tambang diperkirakan baru dapat kembali berjalan sekitar dua bulan setelah audit selesai.
Prospek dan Rekomendasi Saham
Dengan kondisi saat ini, Indopremier Sekuritas memperkirakan UNTR membukukan laba bersih sekitar Rp3,2 triliun pada Kuartal I/2026, dengan asumsi tidak ada tambahan kerugian dari segmen mineral seperti emas dan nikel.
Analis mempertahankan rekomendasi Hold untuk saham UNTR dengan target harga Rp28.500 per saham. Sentimen positif ke depan antara lain berasal dari potensi dimulainya kembali operasi Martabe dan pelonggaran persetujuan RKAB.
Selain itu, perusahaan juga memperpanjang program buyback saham senilai Rp2 triliun hingga 30 Juni 2026, dari sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 15 April.



Source https://www.bisnis.com

Sivun kommentit