Grup Sinarmas DSSA Beberkan Strategi Bisnis 2026: Fokus EBT & Infrastruktur Digital

Admin Ugems
2 minutes de lecture - Thu Jan 15 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) membeberkan strategi bisnis perseroan pada 2026 yang berfokus pada transformasi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) serta penguatan infrastruktur digital dan teknologi, dengan tetap menjaga stabilitas dari bisnis pertambangan batu bara.
Penjelasan tersebut disampaikan manajemen DSSA sebagai tanggapan atas Surat Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor S-00293/BEI.PP2/01-2026 tertanggal 9 Januari 2026 perihal permintaan penjelasan Bursa. Surat tanggapan tersebut diterima BEI melalui sistem pelaporan elektronik pada 12 Januari 2026.
Corporate Secretary DSSA Susan Chandra menjelaskan bahwa strategi perseroan dirancang selaras dengan dinamika industri energi global dan perkembangan pasar domestik.
“Perseroan menjalankan strategi bisnis yang berfokus pada transformasi menuju energi baru dan terbarukan dan penguatan infrastruktur digital dan teknologi, dengan tetap mempertahankan stabilitas dari bisnis pertambangan,” kata Susan dikutip Kamis (15/1/2026).

Susan menuturkan, strategi tersebut sejalan dengan tren global menuju energi rendah karbon serta pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital di Indonesia. Dalam mendukung transisi energi, DSSA melalui entitas anak mempercepat pengembangan proyek panas bumi di Cipanas, Cisolok, dan Nage dengan total kapasitas 140 megawatt (MW) yang ditargetkan mencapai commercial operation date pada 2029.
Selain panas bumi, perseroan juga mengembangkan energi surya, termasuk pembangunan pabrik panel surya berkapasitas 1–2 GWp per tahun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal serta pengembangan solusi rooftop photovoltaic (PV).
“Selain itu, Perseroan juga giat mengembangkan bisnis teknologi, termasuk perluasan infrastruktur digital seperti layanan broadband, pusat data, serta investasi strategis di perusahaan teknologi dan start up untuk memperkuat ekosistem digital Perseroan,” kata Susan.
Di sisi lain, bisnis pertambangan batu bara tetap dipertahankan sebagai kontributor utama pendapatan, dengan fokus pada peningkatan efisiensi operasional guna menghadapi volatilitas harga komoditas.
“Bisnis pertambangan tetap menjadi kontributor utama pendapatan Perseroan, dengan efisiensi operasional untuk hadapi volatilitas harga komoditas,” lanjutnya.
Optimistis Prospek 2026, Non-batu bara Didorong
Manajemen DSSA juga menyampaikan pandangan optimistis terhadap prospek usaha pada 2026, terutama dengan meningkatnya kontribusi pendapatan dari segmen non-batu bara.
“Perseroan optimis terhadap prospek keseluruhan pada tahun 2026 dengan kontribusi pendapatan non-batu bara diperkirakan meningkat signifikan,” ujar Susan.
Optimisme tersebut didukung oleh peringkat kredit idAA stabil dari PEFINDO yang mencerminkan profil keuangan yang kuat serta diversifikasi portofolio perseroan. DSSA menargetkan kinerja positif melalui ekspansi bisnis digital, termasuk rencana penggabungan usaha PT Eka Mas Republik dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk untuk memperoleh skala bisnis yang lebih besar dan meningkatkan arus kas non-batu bara.
“Keyakinan pertumbuhan berkelanjutan berasal dari dukungan kas yang kuat dan pipeline proyek yang semakin berkembang,” jelasnya.
Susan mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi perseroan meliputi kondisi pasar yang memengaruhi harga jual serta ketidakpastian geopolitik global. Untuk merespons hal tersebut, DSSA menerapkan kerangka manajemen risiko yang komprehensif.
“Perseroan menerapkan kerangka manajemen risiko komprehensif untuk melakukan pemantauan profil risiko, diversifikasi portofolio, struktur permodalan konservatif, serta inovasi seperti digitalisasi operasional dan pengamanan likuiditas,” katanya.
Fokus manajemen diarahkan pada penguatan bisnis non-batu bara serta pemantauan ketat terhadap proyek-proyek yang berjalan guna menjaga kesinambungan usaha dalam jangka menengah.
Kinerja DSSA
Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025, DSSA membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,02 miliar dan laba periode berjalan sebesar US$275,11 juta. Angka tersebut masing-masing turun 9,94% dan 37,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Susan menjelaskan bahwa penurunan tersebut terutama disebabkan oleh kinerja bisnis batu bara.
“Faktor utama yang menyebabkan penurunan pendapatan dan laba periode berjalan Perseroan adalah penurunan harga dan volume penjualan batu bara,” ujarnya.
Sebagai respons, perseroan mempercepat strategi diversifikasi usaha ke sektor teknologi dan energi baru dan terbarukan.
“Saat ini, Perseroan telah mulai menjajaki pengembangan bisnis teknologi dan energi baru dan terbarukan. Kedua bisnis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pendapatan Perseroan dan mengurangi ketergantungan Perseroan pada satu bisnis tertentu di masa mendatang,” jelas Susan.
Selain itu, DSSA juga melakukan diversifikasi pasar baik domestik maupun ekspor, serta ekspansi aktif pada bisnis digital melalui rencana penggabungan usaha di sektor telekomunikasi.
Sejalan dengan penurunan rasio profitabilitas, termasuk ROA dan ROE, manajemen DSSA menempuh langkah efisiensi melalui transformasi elektrifikasi di bisnis pertambangan.
“Langkah efisiensi yang dilakukan Perseroan untuk meningkatkan profitabilitas adalah dengan melakukan transformasi elektrifikasi pada biaya yang sedang berjalan di bisnis pertambangan, melalui pemanfaatan electric vehicle (EV) untuk kendaraan operasional, alat berat seperti ekskavator, serta armada kontraktor dan vendor hauling,” kata Susan.
Perseroan juga telah mempersiapkan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya serta melakukan uji coba kesiapan kendaraan listrik.
“Estimasi penghematan untuk tahun 2026 s/d 2029 diperkirakan mencakup sekitar USD 0,7/ton – USD 2,0/ton,” pungkasnya.



Source https://www.bisnis.com

Commentaires sur la page