Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, Saham BRPT-ADMR Jadi Pendorong

Admin Ugems
Lecture une minute - Wed Feb 04 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 membuka perdagangan hari ini Rabu (4/2/2026) di zona hijau, didorong oleh penguatan saham-saham BRPT, ANTM, dan admr.
Berdasarkan data IDX Mobile Pukul 09.05, laju Indeks kerja sama dengan Harian Bisnis Indonesia ini bergerak menghijau pada level 537,76 atau menguat sebesar 0,46%.
Sejumlah saham konstituen yang menjadi pendorong penguatan adalah saham PT Barito Pacific Tbk.(BRPT) menguat sebesar 8,08% ke level Rp2.140, disusul saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang juga naik 3,56%, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (admr) naik sebesar 3,17% ke level Rp1.955.
Berikutnya ada saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) turut menguat sebesar 3,03% ke level Rp1.360, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik sebesar 2,58% menuju level Rp26.850, serta saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik sebesar 2,02% ke level Rp6.325.

Sebaliknya saham-saham yang mengalami pelemahan adalah saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terkoreksi 1,52% ke level Rp260, PT Astra International Tbk. (ASII) turun 1,47% ke level Rp6.700, saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) turun 1,27% ke level Rp2.330.
Berikutnya saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) melemah 1,04% ke level Rp7.125, dan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) terkoreksi 1,16% ke level Rp3.410.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan berdasarkan analisis teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpotensi bergerak menguat secara terbatas dengan area support di 7.800 dan resistance di kisaran 8.320.
Sentimen global datang dari Australia secara mengejutkan menjadi negara besar pertama yang menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga dari 3,60% menjadi 3,85%. Keputusan ini berlawanan dengan arah kebijakan global, saat bank sentral utama seperti The Fed AS dan People’s Bank of China (PBOC) justru bersiap memangkas suku bunga.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kinerja fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa penerimaan pajak Januari 2026 tumbuh kuat dengan kenaikan neto sekitar 30% dibandingkan Januari 2025. Dengan realisasi Januari 2025 sebesar Rp88,89 triliun, maka penerimaan pajak Januari 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp115,56 triliun.
Dari sisi fiskal, kondisi ini memperbaiki ruang fiskal pemerintah, mengurangi tekanan pembiayaan utang, serta memberi fleksibilitas lebih besar untuk belanja prioritas seperti infrastruktur, perlindungan sosial, dan insentif ekonomi. Dari sisi makro, pertumbuhan pajak yang kuat mencerminkan basis pajak yang semakin sehat dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Keberlanjutan tren ini tetap perlu dicermati. Kinerja awal tahun berpotensi dipengaruhi faktor musiman, perbaikan administrasi perpajakan, maupun efek kebijakan sebelumnya, sehingga belum tentu sepenuhnya mencerminkan kinerja tahunan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Commentaires sur la page