Antisipasi Krisis Energi, K3S Asal Indonesia Didorong Bawa Pulang Minyak Mentah ke Tanah Air

Admin Ugems
2 perces olvasmány - Tue Apr 07 01:00:00 GMT 2026

Pekerja memeriksa panel Lightning Protection Systems (LPS) di sekitar tangki BBM di Kilang Pertamina Balongan, Indramayu, Jawa Barat(Antara)

KONTRAKTOR Kontrak Kerja Sama (K3S) asal Indonesia, seperti Pertamina dan Medco, didorong membawa produksi minyak mereka di luar negeri ke Tanah Air. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi ancaman krisis energi global yang saat ini masih membayangi kondisi geopolitik internasional.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan dengan membawa minyak mentah hasil produksi di luar negeri ke Tanah Air, minyak tersebut bisa diolah di kilang-kilang Indonesia melalui harga publish rate, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.
”Saya sepakat dan mendukung perusahaan migas asal Indonesia membawa pulang minyak dari luar negeri (dan mengolah di kilang di dalam negeri dengan harga publish rate). Sebab, dari sisi bisnis ada selisih sedikit, namun yang penting dalam negeri terpenuhi dahulu,” kata Komaidi, di Jakarta, Senin (6/4).Baca juga : Cadangan BBM Aman, Tidak Akan Habis Setelah 20 Hari
Menurut Komaidi, upaya tersebut sangat positif. Pasalnya, di tengah ancaman krisis energi sekarang, terpenting adalah ketersediaan BBM dalam negeri. Ia mencontohkan beberapa negara lain, yang rakyatnya menderita karena kurangnya ketersediaan BBM di negara tersebut.
”Dari pada seperti Filipina, yang sekarang mulai kehabisan energi. Masyarakat di sana sudah jalan kaki ke kantor. BBM pun sudah naik 70%,” ucapnya.
UPAYA PERTAMINA
Upaya membawa pulang minyak mentah dari luar negeri ini, sebelumnya pernah dilakukan Pertamina akhir Januari lalu. Saat itu, BUMN tersebut membawa pulang 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair. Minyak mentah tersebut bukan impor, melainkan dari Wilayah Kerja (WK) Blok 405 A Aljazair, yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP) yang berada di bawah naungan Subholding Upstream Pertamina.
Karena itu juga, di tengah krisis energi global yang berpotensi merambah ke Indonesia, diharapkan Pertamina kembali membawa hasil produk mereka di luar negeri. Begitu juga seperti perusahaan migas lain asal Indonesia, seperti Medco.
Selain itu, diharapkan juga, minyak mentah perusahaan swasta KKKS yang beroperasi di Indonesia, bisa dijual ke kilang-kilang Pertamina. Komaidi menambahkan dalam krisis energi global sekarang, kepentingan nasional memang harus diutamakan. Apalagi, selain harga minyak dunia terus melambung, kurs rupiah terhadap dolar AS juga terus melemah, dan pasokan minyak mentah juga sangat terbatas.
Karena itu, segala upaya memang harus dilakukan. Tidak hanya mencari sumber-sumber pasokan baru, tetapi juga membawa pulang minyak mentah hasil produksi perusahaan migas Indonesia di luar negeri.
KEBUTUHAN DALAM NEGERI
Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Elan Biantoro sependapat. Dia mendukung perusahaan migas asal Indonesia agar membawa pulang produknya di luar negeri demi terjaganya pasokan BBM di dalam negeri. ”Ya memang itu harus dilakukan, membawa pulang minyak hasil ekspansi ke luar negeri, agar dalam negeri tidak defisit,” kata Elan.
Saat kondisi geopolitik tidak menentu seperti ini, jelas Elan, berbagai pihak memang harus melakukan berbagai upaya agar kebutuhan dalam negeri mencukupi.
”Kondisi seperti sekarang kita harus cari-cari akal. Kalau tidak, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi. Kalau masyarakat mungkin kita bisa imbau untuk berhemat, tapi kebutuhan industri, untuk pengembangan ekonomi, barang dan jasa di kawasan industri kan butuh BBM,” ujar Elan.
Karena itu, Elan juga berharap, Pertamina kembali membawa pulang minyak produk mereka dari Aljazair, seperti sebelumnya dilakukan pada Januari 2026.
Menurut Elan, upaya tersebut cukup signifikan di tengah ancaman krisis energi saat ini. “Signifikan, ini tambahan suplai yang penting. Apalagi dalam kondisi geopolitik global yang sedang tidak stabil,” ucapnya.
Elan juga mengatakan saat ini perusahaan migas asal Indonesia hendaknya mengenyampingkan upaya meraih keuntungan besar. Karena yang terpenting adalah, bisa mendapatkan barang guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga bisa menggerakkan roda perekonomian.
"Sekarang lupakan dulu harga. Yang penting suplainya. Barangnya ada dulu, baru bicara harga. Jadi biar ekonomi juga berputar,” tutup Elan. (e-2)



Source https://mediaindonesia.com

Hozzászólások az oldalhoz