Perang AS-Iran Makan Korban Amerika Sendiri

Admin Ugems
Egy perces olvasmány - Tue May 12 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah "memakan korban" Amerika sendiri. Setidaknya ini terlihat dari laporan baru Reuters, Selasa (12/6/2026).
"Meledaknya" harga bahan bakar (BBM) membuat pemerintah Presiden AS Donald Trump harus mengeluarkan kebijakan baru Senin. Intinya, pemerintah federal akan mengeluarkan cadangan minyak strategisnya, SPR, kemudian meminjamkan minyak mentah dari sana kepada sejumlah perusahaan energi.Ini sebagai bagian dari kesepakatan global untuk menenangkan pasar minyak yang telah melonjak akibat perang AS dengan Iran. Berdasarkan data AAA, harga bensin rata-rata di AS mencapai US$4,52 (sekitar Rp79.100) per galon pada Senin, level tertinggi sejak 2022.


SPR adalah cadangan minyak mentah darurat milik pemerintah AS yang disimpan untuk menghadapi kondisi krisis energi. SPR berfungsi sebagai "stok penyangga" jika terjadi gangguan besar pada pasokan minyak dunia, seperti perang, bencana alam, atau lonjakan harga yang ekstrem.
Minyak di dalamnya disimpan di fasilitas bawah tanah berupa gua-gua garam di wilayah Texas dan Louisiana. Pemerintah AS bisa melepas minyak dari SPR ke pasar untuk menambah pasokan dan menstabilkan harga energi dan sebaliknya, SPR juga bisa diisi kembali saat kondisi pasar lebih stabil.
Kemarin, Departemen Energi AS (DOE) menyebut sembilan perusahaan energi ikut dalam skema pinjaman minyak tersebut, termasuk Exxon Mobil, Trafigura, dan Marathon Petroleum. Jumlah yang dipinjam perusahaan itu hanya sekitar 58% dari total 92,5 juta barel yang sebelumnya ditawarkan pemerintah AS bulan lalu.
Program ini merupakan bagian dari kesepakatan internasional yang dipimpin AS bersama lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency (IEA) untuk melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global. Kesepakatan itu muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari.
Penutupan jalur tersebut membuat harga minyak dan bahan bakar melonjak tajam di pasar internasional. Pemerintah AS sendiri telah lebih dulu meminjamkan sekitar 80 juta barel minyak dari SPR pada musim semi tahun ini, di mana Washington menargetkan pelepasan hingga 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Sementara itu, dalam pernyataan di awal Mei, Kepala IEA Fatih Birol, mengatakan perang di Timur Tengah telah menciptakan krisis energi terbesar dalam sejarah modern. Menurutnya, IEA siap melepas tambahan cadangan minyak bila gangguan pasokan terus berlanjut.
Khusus di AS, lonjakan harga energi kini menjadi ancaman politik bagi Trump dan Partai Republik. Apalagi pemilu sela Kongres AS akan berlangsung November mendatang dan mengancam posisi Trump sebagai presiden.
Jika AS terus-menerus melepas atau "meluncurkan" SPR, dampaknya bisa terasa di beberapa lapisan: pasar energi, fiskal, sampai geopolitik. Pertama, dalam jangka pendek, pelepasan SPR biasanya memang berhasil menenangkan harga minyak, tapi kalau dilakukan terlalu sering atau terlalu besar, efek jangka panjangnya bisa berbeda.
Cadangan SPR AS akan menipis, sehingga kemampuan negara itu untuk merespons krisis energi berikutnya menjadi lebih lemah. SPR pada dasarnya adalah "tameng darurat"-kalau tamengnya terus dipakai, daya tahannya berkurang.
Dari sisi pasar, ketergantungan pada pelepasan cadangan juga bisa menciptakan sinyal negatif. Investor bisa menilai bahwa kondisi pasokan energi global sedang rapuh, sehingga volatilitas harga minyak justru bisa meningkat, bukan menurun.
"Pasar juga bisa mengantisipasi intervensi pemerintah, membuat pergerakan harga jadi tidak stabil atau hanya sementara," kata ekonom energi Universitas Michigan, Lutz Kilian, dimuat Econstor.

(sef/sef)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Hozzászólások az oldalhoz