Mengukur Daya Serap Pasar di Tengah Gelombang Rights Issue

Admin Ugems
読了時間: 1分 - Fri Jul 24 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi penerbitan saham baru, baik melalui rights issue maupun private placement, menjadi langkah strategis perusahaan tercatat khususnya di era suku bunga tinggi yang membuat cost of fund meningkat. Dalam situasi ini, daya serap pasar menjadi faktor krusial.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Juli 2026, setidaknya ada 13 emiten mengumumkan rights issue. Terbaru, ada FORU yang mengincar dana Rp27,1 triliun. Bila ini berhasil, akan menjadi nilai rights issue terbesar kedua dalam 5 tahun terakhir.
Selain itu, ada BNBR yang mengincar dana Rp4,76 triliun dan SINI yang mengincar dana Rp3,61 triliun. Sedangkan, ada 3 emiten yang berencana melakukan private placement, yakni MKNT, HATM, dan GPSO.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan bahwa kemampuan pasar menyerap seluruh penerbitan saham baru akan sangat selektif. Menurutnya, rights issue jumbo membutuhkan dukungan kuat dari pemegang saham utama, investor strategis, atau standby buyer.

"Tanpa dukungan tersebut, risiko saham tidak terserap dan tekanan harga menuju harga pelaksanaan rights issue akan semakin besar," kata Liza kepada Bisnis, Kamis (23/7/2026).
Adapun, dalam gelombang aksi korporasi ini, beberapa emiten menggalang dana untuk ekspansi di pertambangan batu bara. Sebagai contoh, MEJA melakukan rights issue untuk mendanai akuisisi perusahaan tambang batu bara PT Trimata Coal Perkasa (TCP). Sementara untuk FORU, perseroan akan menggunakan sebanyak 76,81% dana hasil rights issue untuk menebus saham PT Borneo Prima.
Menurut Liza, investor perlu melihat lebih jauh kualitas aset yang dibeli. Faktor pentingnya antara lain adalah legalitas, jumlah cadangan, biaya produksi, kebutuhan belanja modal, prospek arus kas, serta kewajaran valuasi transaksi.
"Akuisisi baru bisa dikatakan menciptakan nilai apabila tambahan laba dan arus kas ke depan mampu mengimbangi dilusi. Jika asetnya belum produktif atau dibeli pada valuasi yang terlalu mahal, transaksi tersebut justru berisiko membebani pemegang saham publik," jelasnya.
Liza menyarankan agar investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena ada pengumuman rights issue atau private placement. Hal yang perlu diperhatikan adalah tujuan penggunaan dana, harga pelaksanaan, tingkat dilusi, komitmen pemegang saham pengendali, kualitas aset yang akan diakuisisi, serta dampaknya terhadap laba dan arus kas perusahaan.
Emiten dengan sponsor kuat, neraca sehat, valuasi transaksi wajar, dan penggunaan dana yang jelas menurutnya layak dipertimbangkan. Sebaliknya, investor perlu berhati-hati terhadap rights issue berulang, dilusi yang terlalu besar, transaksi afiliasi, atau penggunaan dana yang masih terlalu umum.



Source https://www.bisnis.com

ページコメント