Emiten Emas HRTA hingga BRMS Tampung Berkah Reli Harga Logam Mulia

Admin Ugems
Leitura de 2 minutos - Wed Apr 08 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Potensi kenaikan lanjutan harga emas mendorong emiten Tanah Air yang memiliki bisnis berkaitan dengan komoditas logam mulia mengambil ancang-ancang. PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) hingga PT bumi resources Minerals Tbk. (BRMS) setidaknya sudah ambil langkah maju.
Direktur Investor Relations PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) Thendra Crisnanda menilai dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini telah mempertegas posisi emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang. Dia turut memprediksi, emas sebagai aset safe haven akan terus diburu masyarakat.
”Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik maupun tekanan inflasi, masyarakat cenderung melihat emas sebagai sarana menabung nilai yang relatif stabil. Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” katanya dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (7/4/2026).

Selain faktor permintaan masyarakat, tren akumulasi emas oleh bank sentral juga dinilai menunjukkan sinyal yang kuat. BI sendiri disebut telah menambah 7 ton emas ke dalam cadangan nasional sepanjang 2025, sehingga total cadangan emas mencapai 85 ton pada akhir tahun.
Thendra menyitir target dari Goldman Sachs terhadap harga emas senilai US$5.400 per troy ounce pada 2026 dan JP Morgan senilai US$6.000 per troy ounce dalam jangka panjang. Thendra menyebut, proyeksi itu didasarkan pada permintaan kuat dari bank sentral dan institusi di tengah kekhawatiran terhadap penurunan mata uang global.
”Dengan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta momentum permintaan domestik menjelang Ramadhan, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan aset lindung nilai bagi masyarakat untuk ditabung dalam jangka panjang,” tegasnya.
Di tengah peluang ini, HRTA disebut mengambil fokus pada penguatan ekosistem bisnis emas yang terintegrasi, termasuk peningkatan volume penjualan emas batangan HRTA Gold, optimalisasi jaringan distribusi dan ritel, serta penguatan kemitraan dengan institusi keuangan terutama dalam ekosistem bullion bank.
"Perseroan juga akan terus menjaga efisiensi operasional dan disiplin pengelolaan biaya untuk mempertahankan profitabilitas," katanya.
Memasuki 2026, Thendra mengatakan peluang HRTA menggenjot kinerja keuangannya berasal dari meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global, serta pengembangan ekosistem bullion bank dan permintaan dari institusi keuangan di Indonesia.
"Sementara itu, tantangan yang dihadapi antara lain volatilitas harga emas global, dinamika kebijakan moneter internasional, serta kondisi geopolitik yang dapat mempengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek," ujarnya.

Di satu sisi, Direktur PT bumi resources Minerals Tbk. (BRMS) Herwin Hidayat, turut memprediksi kenaikan harga emas lewat sejumlah lembaga keuangan global yang meramal harga emas pada kisaran US$5.400—US$6.000 per troy ounce hingga akhir 2026 atau awal 2027.
“Saat ini, biaya operasi BRMS masih ada di kisaran US$1.700—US$1.800 per troy ounce. Mengingat harga emas global saat ini ada di kisaran US$4.600—US$4.700, maka BRMS masih mendapatkan profit margin yang cukup baik,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (7/4/2026).
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai di tengah potensi kembali berkilaunya harga emas, emiten tambang emas Tanah Air dibekali sentimen positif. Pasalnya, kenaikan harga jual rata-rata bakal mendorong margin laba naik secara signifikan.
Sebaliknya, emiten perhiasan emas justru dinilai terdampak negatif lantaran lonjakan harga bahan baku berisiko menekan margin dan mengurangi permintaan dari konsumen ritel lantaran harga yang terlampau jauh.
”Emiten tambang emas cenderung positif karena kenaikan harga jual rata-rata langsung melebarkan margin laba secara signifikan. [Sementara] emiten perhiasan emas cenderung negatif karena lonjakan harga bahan baku menggerus margin dan berisiko menurunkan volume permintaan dari konsumen ritel akibat harga yang terlalu tinggi,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).

Di tengah kondisi ini, penurunan volume produksi lantaran kendala cuaca, operasional, hingga pembengkakan biaya energi menjadi risiko utama emiten tambang emas. Belum lagi, volatilitas rupiah turut mendorong risiko yang lebih besar bagi emiten ini.
Namun, di tengah kenaikan harga energi, Wafi menilai bahwa kompensasi biaya dari lonjakan harga emas akan jauh melampaui kenaikan biaya logistik dan operasional perusahaan. Dengan kata lain, emiten tambang emas sangat diuntungkan dari potensi kenaikan ini.
Wafi merekomendasikan saham PT bumi resources Minerals Tbk. (BRMS) pada target harga Rp880, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) pada target harga Rp5.100, dan saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dengan target Rp2.400 per saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Comentários da Página