Neraca Dagang Defisit & PMI Jatuh, DPR Minta Pemerintah Waspada

Admin Ugems
Uma leitura de um minuto - Fri Jul 03 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XI DPR RI buka suara soal kondisi ekonomi Indonesia pada Juni 2026, di mana data inflasi bulanan kembali naik, PMI manufaktur turun ke zona kontraksi, dan neraca perdagangan mencatat defisit.

Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun mengatakan pada Juni atau akhir kuartal kedua, pemerintah harus mewaspadai indikasi data-data tersebut bergejolak.

Terkait neraca perdagangan, Misbakhun mengatakan adanya penyelesaian masalah domestic market obligation (DMO) turut mempengaruhi ekspor Indonesia.



"Ini memang harus kita hati-hati membacanya dan kita harus mulai mendetailkan karena kita harus mulai mewaspadai indikasi ini. Pertama terkait dengan neraca pembayaran kita, di mana adanya penyelesaian masalah DMO, kita mengurangi laju ekspor dan kebutuhan barang-barang itu untuk kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan dalam negeri ini harus jadi prioritas," kata Misbakhun dalam Economic Update CNBC Indonesia, dikutip Jumat (3/7/2026).

Misbakhun melanjutkan kebutuhan dalam negeri menjadi prioritas karena ekosistem ekonomi yang sedang dikembangkan harus mengutamakan kepentingan nasional lebih dahulu.

Adapun terkait DMO ini, komoditasnya yakni kelapa sawit dan turunannya, batu bara, dan lain-lainnya.

"Contohnya batu bara, kita harus mengutamakan kebutuhan batubara dalam negeri untuk kebutuhan pembangkit listrik kita, karena itu kan penting bagi masyarakat. Kita punya batu bara, kita punya sawit ya untuk masyarakat. Selebihnya baru kita ekspor. Kalau sampai kemudian memberikan dampak terhadap kepada neraca pembayaran kita ya itu adalah konsekuensi yang sudah kita perkirakan," lanjut Misbakhun.



Selain data neraca perdagangan, pihaknya juga khawatir dengan data PMI manufaktur Indonesia yang menurun ke level kontraksi.

"Yang agak mengkhawatirkan adalah mengenai PMI, PMI manufaktur kita turun menjadi 46,9, ini tentu harus kita detailkan lagi ke dalam bahwa apa saja yang perlu kita koreksi sebagai Countercyclical, nanti supaya kita perbaiki di kuartal ketiga dan kuartal keempat," terang Misbakhun.

Menghadapi kondisi ini, DPR mendorong realisasi investasi asing ke Indonesia untuk mendorong kinerja industri manufaktur, meningkatkan pembukaan lapangan kerja hingga mendorong perekonomian.

Pihaknya berharap PMI manufaktur Indonesia bisa kembali meningkat ke zona ekspansi dan data ekonomi lainnya bisa membaik.

"PMI kita itu kan selalu begitu, akan ada penurunan terus kemudian kenaikan, terus penurunan lagi selalu begitu. Karena kan basisnya realisasi. Jadi kalau realisasinya lagi rendah, orang belum akan ekspansi. Terus kemudian setelah realisasi akan naik melebihi angka rata-rata. Mudah-mudahan siklus itu yang terjadi," ujarnya.



(chd/haa)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Comentários da Página