Perusahaan Hashim Resmi Menang Lelang Blok Migas RI, Ini Profilnya

Admin Ugems
Leitura de 2 minutos - Mon Sep 21 07:00:00 GMT 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengumumkan pemenang lelang Wilayah Kerja (WK) minyak dan gas bumi (migas) Tahap I Tahun 2026.
Dari lelang itu, ada enam WK migas berhasil ditetapkan pemenangnya dengan total komitmen pasti tiga tahun pertama mencapai US$ 141,512 juta dan bonus tanda tangan sebesar US$ 1,6 juta.
Pengumuman itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri ESDM No. 108.K/MG.4/DJM/2026 tanggal 17 September 2026. Berdasarkan keterangan resmi kementerian esdm, enam blok migas tersebut terdiri dari dua WK lelang penawaran langsung, yaitu Sapukala dan Natuna D-Alpha, serta empat WK lelang reguler area studi ABT 2025, yakni Bengara II, Pesut Mahakam, Puri, dan Rupat.



Salah satu yang menjadi perhatian pemenang lelang tersebut adalah perusahaan migas di bawah Arsari Group yakni PT Nations Petroleum. Perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo ini memenangkan WK Migas Natuna D-Alpha melalui penawaran langsung.
Komitmen pasti 3 tahun pertama sebesar US$ 103.309.000 atau setara Rp 1,83 triliun (asumsi kurs Rp 17.730 per US$) dan bonus tanda tangan US$ 200.000 atau sekitar Rp 3,55 miliar. Mengutip website resmi Arsari Group, Nations Petroleum merupakan perusahaan migas yang berinvestasi dalam teknologi ekstraksi dan pemulihan mutakhir dengan tujuan memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan sumber daya, dan berkontribusi pada masa depan energi yang lebih terjamin.
Profil Blok Migas Natuna D Alpha
Wilayah Kerja Natuna D-Alpha terletak di lepas pantai Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dan memiliki sejarah pengembangan yang panjang sejak puluhan tahun lalu.
Tahun 1973: Perusahaan minyak asal Italia AGIP pertama kali menemukan kandungan gas di Lapangan AL yang kemudian dikenal sebagai Natuna D-Alpha. Potensi sumber daya gas diperkirakan lebih dari 200 triliun kaki kubik.
Tahun 1980: ExxonMobil mendapatkan hak pengelolaan wilayah ini. Namun pengembangan terkendala tingginya kandungan karbon dioksida dalam gas tersebut.
Tahun 2007: Pemerintah menghentikan kontrak ExxonMobil karena proyek belum berkembang secara komersial.
Tahun 2008: Pengelolaan diserahkan kepada PT Pertamina (Persero). Pertamina kemudian menggandeng ExxonMobil kembali, serta Total dan Petronas, untuk mengembangkan blok yang kemudian berganti nama menjadi East Natuna.
Tahun 2012: PTT Exploration and Production asal Thailand masuk menggantikan Petronas dalam konsorsium.
Tahun 2017: Konsorsium pengembangan East Natuna berakhir tanpa hasil komersial.
Tahun 2022: Pertamina mengembalikan pengelolaan proyek East Natuna kepada pemerintah. Proyek dinilai membutuhkan investasi yang sangat besar, terutama untuk menangani kandungan karbon dioksida yang tinggi.

East Natuna Dipecah Jadi Tiga Wilayah Kerja
Setelah pengelolaan East Natuna dikembalikan kepada pemerintah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan skema baru untuk kembali menawarkan potensi migas di kawasan East Natuna kepada investor.
Pemerintah memecah Blok Natuna menjadi tiga wilayah kerja migas, yakni Arwana-Barakuda, Natuna D-Alpha, dan Paus. Pemecahan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menarik kembali minat investor terhadap kawasan yang memiliki potensi sumber daya migas jumbo tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi kementerian esdm yang saat itu dijabat oleh Tutuka Ariadji mengatakan, ketiga wilayah tersebut akan ditawarkan melalui mekanisme lelang internasional secara terbuka.
"Pertengahan Mei pas ada IPA (Indonesian Petroleum Association Conference & Exhibition) itu kita umumkan di situ akan sangat bagus, kita kan perlu cari dulu peminat Natuna ini, kalau kita umumkan harus tahu peminatnya, sekian untuk Natuna," ungkap Tutuka dalam Konferensi Pers, Senin (30/1/2023).
Dalam beberapa kesempatan, Tutuka sendiri mengaku prihatin pengembangan Blok East Natuna telah mangkrak hingga puluhan tahun lamanya. Padahal, blok jumbo ini sendiri mempunyai cadangan yang lebih besar dibandingkan Blok Masela.
"Kita akan bagi tiga karena terlalu besar blok itu. Di atas ada minyak, yang tengah ini yang D-Alpha yang cadangannya besar 46 TCF, lebih besar dari Masela, tapi mengandung karbon yang tinggi. Untuk itu perlu ditawarkan sendiri yang D-Alpha ini," kata Tutuka dalam acara Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (26/12/2022).
Kini, setelah melalui perjalanan panjang sejak pertama kali ditemukan pada 1973, Natuna D-Alpha akhirnya akan dikembangkan oleh anak usaha Arsari Group, PT Nations Petroleum


(pgr/pgr)



Source https://www.cnbcindonesia.com

Comentários da Página