Profil Bayan (BYAN) yang Diincar Haji Isam, Punya Cadangan Batu Bara 2 Miliar Ton

Admin Ugems
5 Minute Read - Fri Sep 18 07:00:00 GMT 2026

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), yang sekitar 30% sahamnya akan dicaplok Grup Jhonlin milik Haji Isam, merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia.
Pada Kamis (17/9/2026), Bayan mengungkapkan rencana pengalihan 10 miliar saham perseroan yang dimiliki Low Tuck Kwong dan Elaine Low kepada PT Jhonlin Baratama.
PT Jhonlin Baratama adalah perusahaan kontraktor pertambangan dan produsen batubara besar yang berpusat di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, serta merupakan bagian dari Jhonlin Group milik pengusaha nasional H. Andi Syamsudin Arsyad (Haji Isam).
Direktur Bayan Resources Jenny Quan­tero mengatakan Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama selaku pembeli pada 16 September 2026.

Berdasarkan perjanjian tersebut, saham yang akan dialihkan mencapai 10.000.000.500 saham biasa BYAN. Penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan.
Berdasarkan data pemegang saham per 30 Juni 2026, Low Tuck Kwong memiliki 13,42 miliar saham BYAN atau 40,25%, sedangkan Elaine Low menguasai 7,33 miliar saham atau 22%. Dengan demikian, keduanya secara gabungan memiliki 62,25% saham perseroan.
Adapun saham yang direncanakan dialihkan mencapai 10.000.000.500 saham atau sekitar 30% dari total 33,33 miliar saham BYAN.
Profil BYAN
BYAN memiliki cadangan batu bara mencapai 2,031 miliar ton, berdasarkan data cadangan dan sumber daya JORC per 1 April 2022. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,185 miliar ton merupakan cadangan terbukti dan 846 juta ton cadangan terkira.
BYAN merupakan perusahaan pertambangan batu bara terintegrasi yang mengoperasikan tambang open cut di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Perseroan memiliki lima kontrak batu bara (CCOW) dan 16 Izin Usaha Pertambangan (IUP).
Secara keseluruhan, konsesi Bayan mencakup lebih dari 126.000 hektare yang dikelompokkan ke dalam 4 proyek pertambangan aktif. Perseroan memproduksi batu bara dengan rentang kualitas mulai dari batu bara bituminus berkalori tinggi hingga sub-bituminus dengan kadar sulfur dan abu rendah.
Berdasarkan data cadangan dan sumber daya JORC per 1 April 2022, cadangan tersebut tersebar di sejumlah wilayah operasional Bayan.
Proyek Tabang/North Pakar menjadi kontributor terbesar dengan total cadangan sekitar 1,692 miliar ton, terdiri atas 1,164 miliar ton cadangan terbukti dan 528 juta ton cadangan terkira.
Sementara itu, wilayah BAS/South Pakar memiliki total cadangan sekitar 301 juta ton, sedangkan sejumlah tambang lainnya menyumbang sekitar 38 juta ton.
Data JORC tersebut mencakup area sekitar 124.087 hektare. Secara kualitas, total cadangan tercatat memiliki rata-rata gross as received (GAR) sekitar 3.984 kcal/kg, total moisture 37,6%, inherent moisture 20,1%, abu 4,7%, dan sulfur 0,14%.
"Aset produksi utama Bayan berada di Proyek Tabang/Pakar di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Konsesi tersebut saat ini menyumbang sekitar 80% dari total produksi batu bara Bayan Group," dikutip dari situs resmi BYAN, Jumat (18/9/2026).
Bayan menyebut Proyek Tabang sebagai salah satu tambang batu bara berbiaya rendah di Indonesia. Tambang tersebut juga memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan belanja modal yang relatif rendah.
Proyek Tabang/Pakar berada sekitar 180 kilometer di barat laut Samarinda dan terdiri atas 12 IUP. Deposit di kawasan tersebut didominasi batu bara sub-bituminus dengan kadar abu dan sulfur rendah.
PRODUKSI NAIK
Produksi di Tabang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Bayan memiliki rencana untuk meningkatkan produksi dari proyek tersebut hingga sekitar 60 juta ton per tahun dalam tahun-tahun mendatang.
Pada semester I/2026, produksi batu bara BYAN mencapai 32,9 juta ton, naik 18,8% year on year (YoY) dibandingkan dengan 27,7 juta ton pada semester I/2025. Produksi pada kuartal II/2026 juga tercatat sedikit meningkat dibandingkan dengan kuartal I/2026.
Dari sisi harga, rata-rata harga jual batu bara (average selling price/ASP) Bayan mencapai US$54 per ton pada semester I/2026, meningkat dari US$50,3 per ton pada semester I/2025. Adapun rata-rata biaya tunai (average cash cost) tercatat US$35 per ton, dibandingkan dengan US$34,2 per ton pada semester I/2025.
Kinerja tersebut mendorong pendapatan Bayan Resources pada semester I/2026 mencapai US$1,74 miliar atau sekitar Rp31,15 triliun, tumbuh 7,29% dibandingkan dengan US$1,62 miliar pada semester I/2025.
Pertumbuhan juga tercatat pada laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Laba bersih BYAN meningkat 17,47% menjadi US$410,26 juta dari US$349,25 juta pada semester I/2025. Jika dikonversikan ke rupiah, laba tersebut meningkat dari sekitar Rp6,25 triliun menjadi Rp7,34 triliun.
Manajemen menyatakan kinerja aktual semester I/2026 berada di atas anggaran untuk sejumlah indikator keuangan, termasuk EBITDA dan laba bersih. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata dan biaya tunai yang lebih rendah, meskipun sebagian diimbangi oleh volume penjualan yang sedikit lebih rendah.
Peningkatan produksi semester I/2026 juga sejalan dengan pengembangan kapasitas operasional BYAN. Perseroan menyebut kapasitas Muara Pahu telah tersedia sepenuhnya sejak 2025 dengan kapasitas lebih dari 45 juta ton per tahun.
Ketersediaan kapasitas tersebut membuka ruang bagi emiten milik Low Tuck Kwong tersebut untuk meningkatkan produksi dari tambang Tabang hingga lebih dari 80 juta ton per tahun.
BYAN mengucurkan total belanja modal ekspansi (expansionary capex) sekitar US$460 juta sepanjang 2019–2026 untuk Proyek Tabang, yang mencakup pembangunan jalan angkut sepanjang 100 km, overland conveyor, serta barge loader di Muara Pahu dan peningkatan fasilitas BCT.
Perseroan telah memulai pembangunan barge loader keempat di Muara Pahu untuk meningkatkan efisiensi, yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Dalam kegiatan operasionalnya, Bayan menggunakan kombinasi ekskavator hidraulik dan truk angkut berkapasitas besar untuk melakukan pengupasan lapisan penutup dan penambangan batu bara.
Ekskavator yang digunakan memiliki kapasitas hingga 300 ton dengan bucket hingga 17,5 meter kubik, sedangkan truk pengangkutan memiliki kapasitas hingga 250 ton.
batu bara dari lubang tambang kemudian diangkut menuju fasilitas intermediate crushing (ICF) atau coal pad sebelum diteruskan ke fasilitas pemuatan tongkang.
ICF di Proyek Tabang memiliki dua jalur crushing dan screening dengan kapasitas masing-masing 500 ton per jam dan 1.500 ton per jam. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas penimbunan atau stockpile total 720.000 ton.
FASILITAS DERMAGA
Bayan juga mengoperasikan fasilitas pemuatan tongkang Gunung Sari dan Senyiur. Dermaga Gunung Sari memiliki kapasitas penimbunan sekitar 700.000 ton dan kapasitas pemuatan tongkang 2.000 ton per jam.
Sementara itu, Dermaga Senyiur memiliki kapasitas penghancuran 10.000 ton per jam, kapasitas penimbunan sekitar 1,5 juta ton, serta tiga pemuat tongkang dengan kapasitas gabungan 12.000 ton per jam.
Selain Tabang/Pakar, Bayan memiliki proyek pertambangan Teguh Sinar Abadi (TSA)/Firman Ketaun Perkasa (FKP), Perkasa Inakakerta (PIK), dan Wahana Baratama Mining.
TSA/FKP terdiri atas dua CCOW yang bersebelahan di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Operasi di kawasan tersebut dimulai pada 2007 dan saat ini menghasilkan sekitar 3 juta ton batu bara kualitas bituminus per tahun.
Dari lokasi tambang, batu bara TSA/FKP diangkut sekitar 20–25 kilometer menuju fasilitas pemuatan tongkang milik Bayan Group di Sungai Mahakam.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas penghancuran batu bara 1.000 ton per jam, kapasitas penimbunan 400.000 ton, serta kapasitas pemuatan tongkang 2.000 ton per jam. Fasilitas ini dapat memuat tongkang berkapasitas 7.500 metrik ton.
Adapun Tambang Perkasa Inakakerta berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Operasi tambang dimulai pada 2007 dan menghasilkan sekitar 1–2 juta ton batu bara sub-bituminus per tahun.
batu bara dari PIK diangkut sekitar 15–20 kilometer menuju fasilitas pemuatan kapal yang dimiliki dan dioperasikan Bayan Group di wilayah pesisir. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pemecahan 1.000 ton per jam, kapasitas penimbunan 620.000 ton, serta kapasitas pemuatan kapal 4.000 ton per jam.
Sementara itu, Wahana Baratama Mining berlokasi di Kabupaten Satui, Kalimantan Selatan. Tambang yang mulai beroperasi pada 2007 tersebut menghasilkan sekitar 1–2 juta ton batu bara bituminus berkalori tinggi per tahun.
batu bara Wahana diangkut sekitar 9 kilometer menuju fasilitas intermediate crushing sebelum diteruskan sekitar 19 kilometer ke fasilitas pemuatan tongkang milik Bayan Group di pesisir.
Fasilitas pemuatan tersebut memiliki kapasitas pemecahan 1.000 ton per jam, kapasitas penimbunan 360.000 ton, dan kapasitas pemuatan tongkang 3.000 ton per jam.
Dengan jaringan tambang dan infrastruktur tersebut, Bayan mengoperasikan fasilitas penting dalam rantai logistik batu baranya, mulai dari tambang, jalan angkut, fasilitas crushing, stockpile, hingga terminal pemuatan.
Bayan juga menyebut lokasi operasionalnya strategis karena berada relatif dekat dengan pelanggan utama di Asia. Perseroan mengandalkan basis cadangan yang besar, usia konsesi yang panjang, serta pasokan batu bara untuk melayani pelanggan, termasuk pembangkit listrik di kawasan Asia.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



Source https://www.bisnis.com

Page Comments